KONSEP PENDIDIKAN AL-QUR’AN MERUJUK KEPADA KISAH NABI IBRAHIM DAN ISMAIL


 Dalam kajian islam secara normatif, pendidikan Al-Qur’an sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mendidik akhlak, adab, serta Qalbu. Al-Qur’an adalah sinyal tentang peta Aturan Allah dalam menjalani kehidupan, tidak asing bagi kita terkadang para ahli mengatakan Al-Qur’an is way of life (Pandangan hidup). Allah SWT seringkali dalam menetapkan dan memperkuat firmannya Allah yaitu dengan memberikan contoh para Anbiyaa Nya untuk melaksanakan perintahnya terlebih dahulu sehingga dalam perjalanan perintah tersebut ada kemudian makna yang tersirat dan tersurat dalam sebuah aspek hukum yang berlaku pada saat itu. Sebagai contoh, tentang terabadikannya kisah penuh haru bahkan tidak pernah terjadi sepanjang perjalanan sejarah yaitu kisah antara seorang orang tua yang taat dan patuh kepada Allah Rabbnya untuk kemudian melaksanakan perintah menyembelih putra kesayangannya yang pada dasarnya yang sudah lama ia nantikan kedatangan dan kelahirannya. Nabi Ibrahim as, yang sudah memasuki usia senja, tetap berdoa kepada Allah Agar tetap diberikan keturunan sebagai penerus dalam misi kenabian dan ketauhidan kepada Allah SWT. 

 Allah SWT pun mengabulkan permohon dari nabi ibrahim as, dan terlahir seorang putra yang diberi nama Nabi ismail as, yang terlahir dari ibunda yang bernama siti hajar. Dalam perjalannya tidak terlepas dari kenikmatan dan rasa syukur atas pemberian dari Allah kepada Nabi Ibrahim as, Allah pun menguji nabi ibrahim dengan ketaaatanya kepada Allah SWT, dengan memberikan perintah yang disampaikan oleh Allah kepadanya dalam sebuah mimpi yang terjadinya kepadanya. Mimpi tersebut mengandung perintah untuk menyembelih putranya yang sangat dia sangat dia sayangi, dan seketika itu Nabi Ibrahim as, sebagai kepala keluarga dan orang tua mengajak berdialog serta menyampaikan kepada putranya nabi ismail as, tentang perintah Allah tersebut dalam mimpinya, dalam hati yang tersadar untain kata yang halus disampaikan oleh nabi ibrahim supaya kemudian tidak tersinggung atas dialaog yang mereka lakukan. Dialog tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an dalam Surah as-shaffat ayat 101-103, dialog tersebut penuh dengan rasa haru, ketaatan dan kesabaran dari nabi ismail dalam merespon dialog dari ayahnya. 

Dalam peristiwa ini setidaknya antara orang tua dan anak harus tetap menomorsatukan perintah ketaatan kepada Allah selaku Khaalik, tidak bisa tidak seorang orang tua saja yang patuh kepada Allah dan anak tidak patuh, begitu juga sebaliknya seorang anak saja yang harus patuh kepada Allah, keduanya harus menunjukkan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah terlebih dalam posisi apapun yang ia pegang dalam kehidupan ini.

Beberapa hal yang bisa kita petik dalam kisah yang sudah familiar ini, akan tetapi tetap menjadi pondasi pendidikan islam yang relevan sepanjang hidup ,zaman dan sejarah antara lain

Pentingnya menjaga komunikasi kepada anak dan keluarga, sehingga terjadinya hubungan yang harmonis antara anak, ayah, ibu serta semua komponen dalam lembaga pendidikan keluarga 

Pentingnya menjaga amanah yang Allah berikan kepada orang tua yakni seorang putra/i yang kelak akan Allah minta pertanggung jawaban atas amanah tersebut

Orang tua tetap mengajak anak kepada ketaatan kepada Allah, perintah ibadah, perintah larangan, dan perintah lainnya haruslah orang tua terdepan dalam menghidupkan ketaatan itu.

Sebagai anak, pentingnya untuk selalu mencari ridho orang tua dalam kehidupannya, karena perjalan kehidupan ini membutuhkan restu orang tua apalagi restu dan ridho dari Allah SWT, sebagai pemberi jalan kehidupan yang terbaik.

Memahami bahwa bersatunya dua insan yang berbeda (ayah dan ibu) sehingga terlahirlah seorang anak adalah jembatan kepada mereka berdua untuk washilah kepada keduanya sehingga dalam perjalanan kehidupan mereka akan ada kemudian yang akan menyelamatkan mereka berdua dengan izin Allah apabila ada kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, yang ditebus dengan kesalehan dari anak-anak yang sholeh dan sholehah.


Begitulah Allah memberikan peta kehidupan kepada hambanya sehingga hambanya tidak kesulitan dalam melaksanakan perintah dan titahnya dalam hidup dan kehidupan ini. Penulis bukanlah sudah merasa baik, namun penulis adalah orang yang pertama mendapat amanah untuk melaksanakan tulisan ini 






        Hormat saya 

      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYONGSONG KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK DI DUNIAN DAN DI AKHIRAT DENGAN MENINGKATKAN IMAN DAN TAQWA KEPADA ALLAH SWT DALAM RANGKA MEMPERINGATI TAHUN BARU ISLAM (1 MUHARRAM 1442 H)